Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang en-US Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2599-3100 Memahami Efesus 5:1-21 dalam Upaya Hidup Berpadanan dengan Panggilan Orang Percaya di tengah "Serigala" http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/56 <p>Kesadaran akan identitas sebagai orang Kristen harus dipertahankan &nbsp;sebab setiap orang percaya mendapat tantangan untuk mengabdi dan hidup dalam ketaatan kepada Allah. Pola hidup orang percaya juga berkaitan dengan posisi. Sebagaimana banyak orang percaya lupa akan identitas dirinya sebagai pembawa terang dan anak-anak Allah. Melalui kualitatif deskriptif dapat menemukan kajian biblikal tentang pola hidup yang berpadan dengan posisi orang percaya sebagai tujuan dari penulisan ini yang mana dapat disimpulkan sebagai berikut:&nbsp; Posisi sebagai anak kekasih yang diaplikasikan berjalan dalam kecintaan&nbsp; kepada ilahi atau berjalan dalam pengabdian kepada Allah secara terus-menerus. Kedua posisi sebagai orang kudus berarti tidak bisa disesatkan karena tidak bergaul atau berkawan untuk mengabdosi pangajaran sesat. Selanjutnya posisi sebagai anak terang dimana&nbsp; orang percaya berjalan dalam kehendak Tuhan sehinga orang percaya semakin mencintai Tuhan dan berdampak bagi sesama. Lalu posisi sebagai orang arif memiliki makna harus memperhatikan karakter hidup yang berjalan dengan kebenaran Tuhan. Posisi tersebut harusnya melekat kepada Orang percaya sebagai pertanggungjawaban hidup yang berpadan dengan posisi.</p> <p><em>Abstract:</em></p> <p><em>The awareness of identity as a Christian must be maintained because every believer is challenged to serve and live in obedience to God. The lifestyle of the believer also has to do with position. As many believers forget their identity as a light bearer and children of God. Through descriptive qualitative one can find a biblical study of life patterns that are compatible with the position of believers as the purpose of this writing which can be concluded as follows: The position as a lover's child that is applied runs in love to the divine or walks in continuous devotion to Allah. The second position as a saint means that he cannot be misled by not associating or making friends to abstain from heretical teachings. Furthermore, the position of being a child of light is where believers walk in God's will so that believers love God more and have an impact on others. Then the position as a wise person has the meaning of having to pay attention to the character of life that runs with God's truth. This position should be attached to the Believer as a life accountability that matches the position</em></p> Kristien Oktavia Yonatan Alex Arifianto Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2 “Yang Turun dari Langit dan Dampaknya” - dalam Kisah Para Rasul 2: Suatu Penelusuran Awal http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/62 <p>There has not been a study on the word ὥσπερ or ὡσεὶ (as) in the Book of Acts Chapter 2 by using Cognitive Linguistic Analysis theorem. Employing a method of interpretation based on such a theory, this study explores the meaning of the words. The hypothesis is the word ὥσπερ or ὡσεὶ.signify the complexity of the Holy Spirit’s role and the the Spirit’s agility. The finding shows that the Holy Spirit has multiple roles and agility beyond human word can describe. However, the Spirit’s main role is guide people to the Lordship of Christ, to transform the disciples to become courageous persons, people with the ability to communicate across borders, and to have agility in following God’s guidance to create real impacts in the society. The church that the Spirit dwells in and leads should possess such fluidity and multiple roles as the Holy Spirit.</p> Robby Chandra Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2 Pendidikan Keluarga Kristen: Regenerasi Pemimpin melalui Pemuridan dan Implikasinya http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/55 <p>Gagasan mengenai pemuridan pribadi secara perlahan mengalami kemunduran. Para pemimpin gereja mulai memposisikan para pendeta sebagai satu-satunya orang yang memiliki hak prerogatif untuk memimpin gereja. Perbedaan hak antara pendeta dan jemaat awam inilah yang menyebabkan pemuridan pribadi itu dirampas dari tangan orang-orang keluarga Kristen. Sejak orang-orang Kristen awam disingkarkan dari pelayanan-pelayanan penting di gereja, pemuridan pribadi menjadi tidak bermakna dan benar-benar dilupakan oleh sebagian besar orang Kristen. Padahal &nbsp;sejak awal mula, Allah telah merancang dan mendesain, bahwa melalui keluarga pesan-Nya harus disampaikan kepada generasi-generasi selanjutnya. Penulisan ini dilakukan dengan menggunakan metode kepustakaan. Adapun hasil dari penulisan ini adalah: Pemuridan yang dilakukan dalam keluarga Kristen sangatlah strategis dalam menghasilkan regenerasi pemimpin masa depan yang mewarisi iman Kristen melalui keteladanan hidup dan hubungan relasi yang sangat erat. Pola pemuridan seperti ini sungguhlah efektif karena berbasiskan prinsip-prinsip pendidikan dan prinsip-prinsip yang diajarkan oleh Alkitab.</p> <p><em>&nbsp;The idea of ​​personal discipleship is slowly degenerating. Church leaders began to position pastors as the only people who had the prerogative to lead the church. It is this difference in rights between the pastor and the lay congregation that causes personal discipleship to be deprived of the hands of Christian families. Since lay Christians were excluded from important ministries of the church, personal discipleship has become meaningless and has been completely forgotten by most Christians. Whereas from the very beginning, Allah has designed and designed, that through the family His message must be conveyed to future generations. This writing is done using the literature method. The results of this writing are: Discipleship that is carried out in Christian families is very strategic in producing the regeneration of future leaders who inherit the Christian faith through exemplary life and very close relationships. This pattern of discipleship is really effective because it is based on educational principles and the principles taught by the Bible.</em></p> <p><em>&nbsp;</em></p> Yakub Hendrawan Perangin Angin Tri Astuti Yeniretnowati Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2 Kritik terhadap Metode Tafsir Hermeneutik Pembebasan terhadap Peristiwa Keluaran Sebagai Suatu Bentuk Pembebasan http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/54 <p><strong><em>Abstract:</em></strong> <em>Hermeneutics is the exegetical method used by theologians to interpret the Bible according to its views and purposes. This research is a qualitative descriptive study to study the hermeneutic interpretation method of the Output event as a form of change. The Exodus events are important in the Bible, especially the Old Testament because God freed His people from the exploitation and oppression of the Egyptians. Theologians use the Israelite exodus from Egypt as the main hermeneutic or interpretive reference for the purpose of claiming and claiming that the exodus event is the basis for contemporary freedom from slavery, oppression or poverty. Through the spirit of exodus events and events, theologians develop hermeneutic methods to interpret output events according to their views and goals. Hermeneutic interpretation method uses an approach; postmodern, reader-centered method, text-centered method, ideological criticism approach, and critical criticism.</em></p> <p><strong>Abstrak:</strong> Hermeneutika pembebasan adalah metode penafsiran yang digunakan oleh para teolog pembebasan untuk menafsirkan Alkitab menurut pandangan dan tujuan pembebasan. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif untuk melakukan kajian metode tafsir hermeneutik pembebasan terhadap peristiwa Keluaran sebagai suatu bentuk pembebasan. Peristiwa Exodus adalah peristiwa penting dalam Alkitab, terutama Perjanjian Lama karena Tuhan membebaskan umat-Nya dari eksploitasi dan penindasan orang Mesir. Para teolog pembebasan menggunakan eksodus bangsa Israel dari Mesir sebagai rujukan utama penafsiran atau hermeneutik untuk tujuan semangat pembebasan dan mengklaim bahwa peristiwa eksodus adalah dasar untuk kebebasan dari perbudakan, penindasan atau kemiskinan di masa kini. Melalui semangat pembebasan dan peristiwa eksodus, para teolog pembebasan mengembangkan metode hermeneutik untuk menafsirkan peristiwa keluaran sesuai dengan pandangan dan tujuan pembebasan. Metode tafsir hermeneutik pembebasan menggunakan pendekatan; postmodern, metode berpusat pada pembaca, metode berpusat pada teks, pendekatan kritik ideologis, dan pendekatan kritik pembebasan.</p> Jhon Leonardo Presley Purba Robinson Rimun Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2 Kingdom Graph: Mengapa Gereja-Gereja di Iran Dan Tiongkok Berkembang Pesat walau dalam Tekanan atau Aniaya http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/58 <p>Among the Pentecostal / Charismatic circles, a distinctive hermeneutic understanding has developed, which Menzies wrote in his book: This story is our story. This means an understanding that the story of the early church that we read in the Acts of the Apostles is also the story of the churches today in various places, which also experienced various pressures and persecutions. This is especially so in Iran and China, but what is strange is that the seeds of God's Word, which seemed to fall on rocky ground, did not immediately die out, but instead found unique ways to grow. This article notes some things that churches in other places need to listen to and learn about their tenacity and perseverance and zeal. In the second part, the authors present a graph model to understand church growth as an endogenous process. We hope that these observations and mathematical models are useful for church leaders in developing a more dynamic ecclesiology.</p> Victor Christianto Simon Simon Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2 Kekristenan dan Liberalisme, karya J. Gresham Machen http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/59 <p>Hampir seabad yang lalu, Machen sebenarnya telah mengingatkan orang-orang Kristen bahwa Liberalisme adalah sebuah sistem agama yang sama sekali berbeda dari Kekristenan; ia bahkan berpendapat bahwa mereka tidak tepat disebut sebagai orang Kristen. Peringatan ini secara panjang lebar ia tuangkan dalam salah satu karya monumentalnya, bertajuk Christianity and Liberalism. Hanya saja, kendala bahasa membuat ‘suara kenabian’ Machen tidak bisa didengar banyak orang Kristen di Indonesia. Meskipun memang tergolong amat terlambat, tetapi upaya penerbit Momentum menerjemahkan karya Machen bagi orang-orang Kristen di Indonesia adalah sebuah langkah yang amat patut diapresiasi.</p> stefanus kristianto Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2 Contextualization: A Theology of Gospel and Culture, karya: Nicholls, Bruce J. http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/53 <p><em>Contextualization: A Theology of Gospel and Culture, karya: </em>Nicholls, Bruce J.</p> Martin Susanto Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2 Tritunggal dan Pluralisme Agama; karya Veli-Matti Karkkainen http://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/60 <p>Buku ini membahas perkembangan diskursus teologi agama-agama dalam kurun waktu sekitar 5-7 dekade terakhir, mulai dari Karl Barth, Moltmann, Pannenberg hingga penulis yang lebih kemudian seperti Heim. Di sinilah letak kekuatan buku ini.<br>Namun juga di situlah kelemahannya, kalau boleh disebut demikian, yakni buku ini lebih cenderung melibatkan diskusi tersebut dari sudut pandang akademisi/teolog, artinya kurang melibatkan pandangan dari para misionaris yang juga menggumuli topik-topik perjumpaan lintas agama.</p> Victor Christianto Copyright (c) 2021 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2021-06-30 2021-06-30 4 2