Archives

  • Baptism in Holy Spirit
    Vol. 3 No. 1 (2019)

    Seperti kita ketahui, berbagai aliran gereja memiliki pemahaman yang beragam mengenai topik Baptisan Roh Kudus. Misalnya dari kalangan Kharismatik maupun Pentakostal lebih menekankan karya Roh Kudus yang memberikan kuasa yang memberdayakan dan juga karunia-karunia roh. Demikian seterusnya. 
    Karena itu, pada edisi kali ini Jurnal Teologi Amreta mengangkat topik Baptisan Roh Kudus ini, agar kita dapat saling melengkapi dengan beragam pendekatan dan pemikiran. Tulisan-tulisan yang dihadirkan dalam edisi ini ditulis oleh beberapa hamba Tuhan yang mewakili baik aliran Pentakostalisme, Protestan, maupun Katolik. 
    Sebagai artikel pembuka, Jefri Hina Remi Katu menguraikan makna baptisan Roh dalam karya-karya Paulus. Selanjutnya Pdt. Robby I. Chandra dan Elia Tambunan melaporkan hasil penelitian tentang persepsi gereja-gereja di Jabotabek mengenai karya dan baptisan Roh Kudus. Tentunya hasil penelitian tersebut perlu kita simak dan cermati. Pada artikel ketiga Toni Irawan menguraikan makna menyembah dalam Roh dan kebenaran, yang merupakan topik yang selalu hangat untuk diperbincangkan. Selanjutnya pada artikel keempat, Andreas Maurenis Putra memaparkan kebijaksanaan sebagai karunia Roh Kudus. Sebagai artikel non-tematik, ada artikel yang menarik oleh Marz Wera yang membahas etika global Prof Hans Kung, dalam konteks berdialog dan hidup berdampingan secara lintas-agama. 
    Sebagai penutup, ada dua resensi buku: Pastor Katolik di UIN Syarif Hidayatullah  karya Greg Soetomo dan buku The Origin of Religions karya Thomas Hwang.
    Tentu harapan kami adalah edisi ini dapat menyegarkan wawasan teologis kita mengenai Baptisan Roh Kudus ini, meski tidak hanya menampilkan perspektif Kharismatik-Pentakostal saja. 

  • Hermeneutics & Pentecostalism
    Vol. 1 No. 2 (2018)

    Bidang kajian “hermeneutika” kerap menjadi bahan perdebatan, tidak saja dalam ranah teologi namun juga filsafat kontemporer. Filsuf seperti Gadamer dan Ricoeur kerap dirujuk sebagai narasumber yang otoritatif dalam membahas hermeneutika kontemporer. Demikian juga, hermeneutika Pentakostal telah menjadi salah satu topik hangat di antara para ahli studi Pentakosta, dengan pertanyaan utama antara lain: adakah perbedaan esensial antara hermeneutika Pentakostal dan hermeneutika non-Pentakostal? Jika ada, di manakah letak perbedaannya?
    Ada empat artikel utama berkaitan dengan tema edisi kedua ini, berturut-turut adalah: (a) hermeneutika Teologi Pentakostal (Jefri Hina Remi Katu); (b) kosmologi biblika berdasarkan pembacaan ulang atas Kejadian 1:1-2 (V. Christianto & F. Smarandache); (c) membedakan roh (Cheong Weng Kit); dan (d) seputar gerakan dan hermeneutika feminisme (Yahya Afandi). Meskipun artikel-artikel yang dimuat dalam edisi ini cukup selektif dibandingkan dengan luasnya topik hermeneutika Pentakostal, namun kiranya dapat memberikan gambaran tentang diskusi terkini seputar topik-topik ini. 

  • Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue
    Vol. 3 No. 2 (2020)

    As we know, various denominations of Pentecostal-Charismatic churches, often bear the distinctive feature of the gift of speaking in tongues and also the baptism of the Holy Spirit. But of course other denominations also have diverse understandings on the topic of the Baptism of the Holy Spirit. And so on.
    Therefore, it becomes interesting to open a dialogue, how exactly we should understand life goes in the direction of the Holy Spirit, not only the orthodoxy level (as far as possible with the orthodox way of life as the early church), but also think and live according to the Spirit. The purpose of this theme is to discuss how to interpret the gift of tongues in the context of thinking (thinking in tongue) and working real in everyday life (living in tongue). In another sentence, how speaking in tongues not only emphasizes orthodoxy in worship and prayer (returning to the practice of the early church), but also has implications for orthopraxis. The writings presented in this edition were written by several servants of God who represented both Pentecostalism, Baptism, and Catholicism.
    As an opening article, Pdm. Sori Tjandrah Simbolon explained in a rather detailed manner about the pastoral counseling services that he occupied, especially using the psychospiritual approach. Then Amelia Rumbiak describes the theology of worship and its relationship to the spirituality of millennial generation. Then Andreas Maurenis Putra discusses how the relationship between Christianity and technology, especially regarding ethics that must be lived as Christians in the context of technological progress.
    Also interesting to note is the writings of Sara L. Sapan and Dicky Dominggus, concerning the pastoral responsibilities according to 1 Peter 5: 1-4.
    In the fifth article, V. Christianto, Rev. Isak Suria and Talizaro Tafonao compare sports religiosity and spirit, especially in reflecting on the ethical meaning of mercy (hesed). In the non-thematic section, there is an interesting article from Markus Oci, about Higher Education Conversion Supplement (ISK) Instruments.
    In closing, there are two reviews of Warren Wiersbe's work, and also a collection of writings entitled The Trinity among the Nations: The Doctrine of God in the Majority World.
    Of course our hope is that this edition will refresh our theological insight about not only what life is led by the Holy Spirit, but also how to translate it into orthopraxis.
    Although the articles contained in this edition are quite selective compared to the breadth of the running themes in the leadership of the Holy Spirit, they may provide an overview of current discussions around these topics.

    =======
    Seperti kita ketahui, berbagai denominasi gereja yang beraliran PentakostalKharismatik, kerap menyandang ciri khas yaitu karunia berbahasa roh dan juga baptisan Roh Kudus. Namun tentunya denominasi yang lain juga memiliki pemahaman yang beragam mengenai topik Baptisan Roh Kudus. Demikian seterusnya. 
    Karena itu, menjadi menarik untuk membuka dialog, bagaimana sebenarnya kita sebaiknya memahami hidup berjalan dalam pimpinan Roh Kudus, tidak saja tataran ortodoksi (sedapat mungkin dengan cara hidup ortodoks sebagaimana gereja mula-mula), namun juga berpikir dan hidup menurut Roh. Tujuan tema ini adalah untuk mendiskusikan bagaimana memaknai karunia bahasa Roh dalam konteks berpikir (thinking in tongue) dan berkarya nyata dalam kehidupan sehari-hari (living in tongue). Dalam kalimat lain, bagaimana berbahasa lidah bukan saja menekankan ortodoksi dalam melakukan penyembahan dan doa (kembali pada praktik gereja perdana), namun juga berimplikasi pada ortopraksis.  Tulisan-tulisan yang dihadirkan dalam edisi ini ditulis oleh beberapa hamba Tuhan yang mewakili baik aliran Pentakostalisme, Baptis, maupun Katolik. 
    Sebagai artikel pembuka, Pdm. Sori Tjandrah Simbolon memaparkan secara agak rinci mengenai pelayanan pastoral konseling yang ditekuni beliau, khususnya menggunakan pendekatan psikospiritual. Lalu Amelia Rumbiak menguraikan teologi ibadah dan hubungannya dengan spiritualitas generasi milenial. Lalu Andreas Maurenis Putra mendiskusikan bagaiman relasi antara Kristen dan teknologi, khususnya menyangkut etika yang mesti dihidupi sebagai umat Kristiani dalam konteks kemajuan teknologi. 
    Yang juga menarik untuk disimak adalah tulisan Sara L. Sapan dan Dicky Dominggus, mengenai tanggung jawab penggembalaan menurut 1 Petrus 5:1-4.

    Pada tulisan kelima, V. Christianto, Pdt Isak Suria dan Talizaro Tafonao membandingkan religiositas dan spirit olahraga, khususnya dalam merenungkan ulang makna etika belaskasih (hesed). Di bagian non-tematik, ada artikel yang menarik dari Markus Oci, mengenai Instrumen Suplemen Konversi (ISK) Perguruan Tinggi. 
    Sebagai penutup, ada dua resensi terhadap karya Warren Wiersbe, dan juga kumpulan tulisan berjudul The Trinity among the Nations: The Doctrine of God in the Majority World. 
    Tentu harapan kami adalah edisi ini dapat menyegarkan wawasan teologis kita mengenai tidak saja apa itu hidup oleh pimpinan Roh Kudus itu, namun juga bagaimana menerjemahkannya menjadi orthopraksis. 
    Meskipun artikel-artikel yang dimuat dalam edisi ini cukup selektif dibandingkan dengan luasnya tema berjalan dalam pimpinan Roh Kudus tersebut, namun kiranya dapat memberikan gambaran tentang diskusi terkini seputar topik-topik ini.
     

  • Pentecostalism & Eschatology
    Vol. 2 No. 1 (2018)

    Topik akhir zaman dan tanda-tanda zaman senantiasa menarik perhatian umat Kristen dari sejak dahulu kala. Bahkan, para penulis Perjanjian Baru memahami bahwa Tuhan Yesus akan datang segera. Hal ini mungkin menyebabkan para penginjil awam pada periode awal gereja begitu bersemangat untuk menyaksikan kebangkitan Yesus Kristus dan penebusan dosa yang diberikan oleh Tuhan.
    Bagaimana dengan gereja saat ini? Tentu ada yang menyambut topik-topik ini dengan antusiasme yang berlebihan, bahkan isyu seperti chips dan lain-lain sudah akrab di telinga kita. Namun, secara umum boleh dikatakan bahwa banyak pimpinan gereja kurang peka untuk mempersiapkan umat mereka untuk menyambut kedatangan Sang Raja di Atas Segala Raja kali kedua.
    Edisi Jurnal Amreta ke-3 ini mengangkat topik eskatologi dalam perspektif Pentakostalisme. Namun dari keenam tulisan yang dimuat, tidak ada pembahasan standar seperti kuda putih dan lain lain, yang sudah banyak diulas dalam kesempatan lain. Gani Wiyono membahas tentang eskatologi pada periode awal Pentakostalisme. Jessica Novia Layantara membaca ulang kerangka berpikir dispensasionalisme, seraya mengajukan usulan untuk postmilenialisme yang bersyarat. Silwanus Gabriel membahas makna perjamuan makan dalam konteks Pentakostalisme Klasik (Mazmur 23:5a). Dan Bambang Noorsena membahas seputar pemaknaan Dajjal dari sudut epistemologi maupun eskatologi.
    Christianto justru ingin menekankan betapa masih banyak hal yang perlu dibenahi dalam Gereja sebagai Tubuh Kristus, sebelum kita dilayakkan untuk menyambut Sang Raja.

  • Jurnal Amreta Vol. 4 No. 1 (2020). Theme: Mission in the Spirit
    Vol. 4 No. 1 (2020)

    Jurnal Amreta Vol. 4 No. 1 (2020). Theme: Mission in the Spirit

     

    Seperti kita ketahui, kalangan Karismatik-Pentakostal dikenal lebih bersemangat
    untuk mewartakan Kabar Baik. Meski secara umum, gereja-gereja yang nonPentakostal juga mengenal tritugas panggilan gereja: koinonia, diakonia dan
    marturia, namun dalam prakteknya acapkali hanya menekankan sebagian saja
    dari tugas tersebut.
    Dalam edisi Jurnal Amreta kali ini, tema yang diangkat adalah bagaimana bermisi
    dalam pimpinan Roh Kudus. Karena jika gereja bermisi hanya dengan
    mengandalkan metode-metode atau hikmat manusia, hal tersebut bisa saja
    justru bertentangan dengan maksud dan kehendak Tuhan bagi jemaat gereja
    yang bersangkutan. Padahal sebagai tubuh Kristus, kita mesti belajar untuk
    mendahulukan kehendak Tuhan daripada program-program rancangan manusia.
    Artikel-artikel dalam edisi kali ini dipilih untuk mewakili tema tersebut.
    Sebagai artikel pembuka, Pdt. Isak Suria memaparkan mengenai pengertian
    peripateo dan stoikheo. Seperti kita ketahui, istilah “Berjalan dalam Roh” sering
    kita dengar di kalangan Kristen namun masih memerlukan kajian lebih dalam,
    karena banyak perbedaan tafsiran. Sebuah artikel yang layak disimak.
    Lalu Michelle Fortunella Sugianto menguraikan mengenai doktrin kesembuhan
    dalam pelayanan Karismatik, serta implikasinya dalam konteks pandemi covid19 yang sedang terjadi. Selanjutnya dalam artikel ketiga, Pdt. Robby Chandra
    membahas mengenai peran Roh Kudus dalam misi Allah, berdasarkan teks Kisah
    Para Rasul 16:11. Ada beberapa hal baru dan penting yang diungkapkan dalam
    tulisan ini, khususnya implikasinya dalam kepemimpinan gerejawi.
    Artikel selanjutnya adalah mengenai peran kepemimpinan misi Rasul Paulus,
    ditulis oleh Christian Bayu Prakoso dan Yonatan Alex Arifianto. Kedua penulis
    juga menguraikan beberapa saran untuk kepemimpinan misi masa kini.

    Dalam artikel kelima, Alentinus Yonathan menguraikan mengenai makna Roh di
    Endor dalam 1 Samuel 28, khususnya jika dibandingkan dengan Ajaran Aliran
    Pangestu.
    Sebaagai artikel non-tematik, catatan awal mengenai Logika Sentensial oleh V.
    Christianto dapat disimak, khususnya dalam hubungannya dengan diskusi
    Manunggaling Kawula Gusti dan Trinitas.
    Sebagai penutup, ada dua resensi terhadap karya Azurdia III berjudul Spirit
    Empowered Preaching: Menyampaikan Khotbah dengan Ilham Roh dan Kuasa
    Ilahi, dan juga karya Peter J. Williams, berjudul Can We Trust the Gospels?
    (Dapatkah kita mempercayai Injil?). Kedua resensi buku ini menutup edisi
    Mission in the Spirit ini.
    Tentu harapan kami adalah edisi ini dapat menyegarkan wawasan teologis kita
    mengenai hal-hal yang perlu lebih diperhatikan dalam melaksanakan misi Allah
    dalam pimpinan Roh Kudus itu.

  • Pneumatological viewpoint of Psychology and Education
    Vol. 2 No. 2 (2019)

    Seperti kita ketahui, sebagian Hamba Tuhan khususnya dari kalangan Kharismatik maupun Pentakostal agaknya kurang begitu yakin dengan metodemetode Psikologi modern. Mungkin sering kita dengar ada yang berujar: “Pokoknya ikuti Alkitab saja.” 
    Namun, mesti diakui juga bahwa di pihak lain, hasil-hasil penelitian yang dikembangkan oleh ilmu Psikologi modern sangat berdampak pada berbagai cabang ilmu lain dewasa ini, baik itu ilmu pendidikan, manajemen, bahkan ekonomi. Karena luasnya cakupan itu maka tema Jurnal Amreta kali ini adalah bagaimana perspektif Pneumatologi dalam bidang Psikologi dan juga Pendidikan.
    Sebagai pembuka, Jefri Hina Remi Katu memaparkan secara ringkas sejarah Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti – Malang. Lalu pada artikel kedua, Talizaro Tafonao, seorang pendidik dan pengamat dunia pendidikan, menulis tentang teladan Yesus dalam perspektif kharismatik Pentakostal. Selanjutnya pada artikel ketiga, Silwanus Gabriel menyampaikan argumen bahwa dialog antara Yesus dan Petrus sebagaimana tercatat dalam Injil Matius dapat digunakan sebagai suatu lensa untuk mengembangkan pendekatan yang tepat dan biblika terhadap problem kejiwaan. Lalu artikel keempat, membahas mengenai suatu masalah yang tidak pelak cukup kerap muncul, yakni fenomena “berebut panggung” di kalangan akademisi Pentakostal. Artikel ini ditulis oleh Elia Tambunan, seorang pendeta dan akademisi dari Jawa Tengah. Artikel kelima oleh V. Christianto & F. Smarandache yang mengusulkan suatu pendekatan unik terhadap psikologi dalam perspektif pneumatologis: Pneumatic Transpersonal Psychology, dan implikasinya dalam bidang psikoterapi dan pendidikan yang bernuansa dialogis.

  • Pentacostalism & Demonology
    Vol. 1 No. 1 (2017)

    “Urip Iku Mung Mampir Ngombe”
     
    Ungkapan "Urip iku mung mampir ngombe" cukup dikenal di kalangan
    orang-orang Jawa dahulu. Seorang rekan yang kebetulan seorang
    pendeta menceritakan asal-usul ungkapan itu:
    "Pepatah ini sudah sangat tua ada di masyarakat Jawa. Ketika pepatah ini muncul dulu, relasi inter anggota masyarakat Jawa sangat terbuka dan akrab. Setiap rumah pasti menyiapkan kendhi atau teko tanah tempat air minum dan ditempatkan di depan rumah dekat jalan. Setiap orang yang lewat di jalan situ boleh minum dari air itu sepuasnya. Tuan rumah akan memeriksa kendhi itu secara berkala. Kalau air di dalamnya habis, ia akan segera mengisinya. Yang sedang berjalan tidak perlu repot harus bertamu, yang punya rumah juga tidak perlu repot menyiapkan tamunya. Nah, meminum air dari kendhikendhi di pinggir jalan itulah yang disebut mampir ngombe (mampir minum)."1
     
    Tentu ada berbagai pemaknaan yang mungkin atas ungkapan
    tersebut: 
    a. Pemaknaan literal: jika hidup hanya untuk minum-minum
    (alkohol), jadinya ya bisa kena kanker liver, 
    b. pemaknaan kiasan: hidup ini hanya singkat dan sangat sementara,
    seperti mampir minum saja.2
    c. Pemaknaan dari sudut budaya keramahan: hidup yang singkat ini
    bukan milik kita, kita hanyalah orang yang mampir menikmati
    kebaikan cuma-cuma dari Sang Tuan Rumah dan Pemilik hidup,
    yakni Tuhan Yang Maha Esa.