Vol. 3 No. 2 (2020): Speaking in Tongue, Thinking in Tongue, Living in Tongue

As we know, various denominations of Pentecostal-Charismatic churches, often bear the distinctive feature of the gift of speaking in tongues and also the baptism of the Holy Spirit. But of course other denominations also have diverse understandings on the topic of the Baptism of the Holy Spirit. And so on.
Therefore, it becomes interesting to open a dialogue, how exactly we should understand life goes in the direction of the Holy Spirit, not only the orthodoxy level (as far as possible with the orthodox way of life as the early church), but also think and live according to the Spirit. The purpose of this theme is to discuss how to interpret the gift of tongues in the context of thinking (thinking in tongue) and working real in everyday life (living in tongue). In another sentence, how speaking in tongues not only emphasizes orthodoxy in worship and prayer (returning to the practice of the early church), but also has implications for orthopraxis. The writings presented in this edition were written by several servants of God who represented both Pentecostalism, Baptism, and Catholicism.
As an opening article, Pdm. Sori Tjandrah Simbolon explained in a rather detailed manner about the pastoral counseling services that he occupied, especially using the psychospiritual approach. Then Amelia Rumbiak describes the theology of worship and its relationship to the spirituality of millennial generation. Then Andreas Maurenis Putra discusses how the relationship between Christianity and technology, especially regarding ethics that must be lived as Christians in the context of technological progress.
Also interesting to note is the writings of Sara L. Sapan and Dicky Dominggus, concerning the pastoral responsibilities according to 1 Peter 5: 1-4.
In the fifth article, V. Christianto, Rev. Isak Suria and Talizaro Tafonao compare sports religiosity and spirit, especially in reflecting on the ethical meaning of mercy (hesed). In the non-thematic section, there is an interesting article from Markus Oci, about Higher Education Conversion Supplement (ISK) Instruments.
In closing, there are two reviews of Warren Wiersbe's work, and also a collection of writings entitled The Trinity among the Nations: The Doctrine of God in the Majority World.
Of course our hope is that this edition will refresh our theological insight about not only what life is led by the Holy Spirit, but also how to translate it into orthopraxis.
Although the articles contained in this edition are quite selective compared to the breadth of the running themes in the leadership of the Holy Spirit, they may provide an overview of current discussions around these topics.

=======
Seperti kita ketahui, berbagai denominasi gereja yang beraliran PentakostalKharismatik, kerap menyandang ciri khas yaitu karunia berbahasa roh dan juga baptisan Roh Kudus. Namun tentunya denominasi yang lain juga memiliki pemahaman yang beragam mengenai topik Baptisan Roh Kudus. Demikian seterusnya. 
Karena itu, menjadi menarik untuk membuka dialog, bagaimana sebenarnya kita sebaiknya memahami hidup berjalan dalam pimpinan Roh Kudus, tidak saja tataran ortodoksi (sedapat mungkin dengan cara hidup ortodoks sebagaimana gereja mula-mula), namun juga berpikir dan hidup menurut Roh. Tujuan tema ini adalah untuk mendiskusikan bagaimana memaknai karunia bahasa Roh dalam konteks berpikir (thinking in tongue) dan berkarya nyata dalam kehidupan sehari-hari (living in tongue). Dalam kalimat lain, bagaimana berbahasa lidah bukan saja menekankan ortodoksi dalam melakukan penyembahan dan doa (kembali pada praktik gereja perdana), namun juga berimplikasi pada ortopraksis.  Tulisan-tulisan yang dihadirkan dalam edisi ini ditulis oleh beberapa hamba Tuhan yang mewakili baik aliran Pentakostalisme, Baptis, maupun Katolik. 
Sebagai artikel pembuka, Pdm. Sori Tjandrah Simbolon memaparkan secara agak rinci mengenai pelayanan pastoral konseling yang ditekuni beliau, khususnya menggunakan pendekatan psikospiritual. Lalu Amelia Rumbiak menguraikan teologi ibadah dan hubungannya dengan spiritualitas generasi milenial. Lalu Andreas Maurenis Putra mendiskusikan bagaiman relasi antara Kristen dan teknologi, khususnya menyangkut etika yang mesti dihidupi sebagai umat Kristiani dalam konteks kemajuan teknologi. 
Yang juga menarik untuk disimak adalah tulisan Sara L. Sapan dan Dicky Dominggus, mengenai tanggung jawab penggembalaan menurut 1 Petrus 5:1-4.

Pada tulisan kelima, V. Christianto, Pdt Isak Suria dan Talizaro Tafonao membandingkan religiositas dan spirit olahraga, khususnya dalam merenungkan ulang makna etika belaskasih (hesed). Di bagian non-tematik, ada artikel yang menarik dari Markus Oci, mengenai Instrumen Suplemen Konversi (ISK) Perguruan Tinggi. 
Sebagai penutup, ada dua resensi terhadap karya Warren Wiersbe, dan juga kumpulan tulisan berjudul The Trinity among the Nations: The Doctrine of God in the Majority World. 
Tentu harapan kami adalah edisi ini dapat menyegarkan wawasan teologis kita mengenai tidak saja apa itu hidup oleh pimpinan Roh Kudus itu, namun juga bagaimana menerjemahkannya menjadi orthopraksis. 
Meskipun artikel-artikel yang dimuat dalam edisi ini cukup selektif dibandingkan dengan luasnya tema berjalan dalam pimpinan Roh Kudus tersebut, namun kiranya dapat memberikan gambaran tentang diskusi terkini seputar topik-topik ini.
 

Published: 2020-07-19

Full Issue