Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta Sekolah Tinggi Teologi Satyabhakti, Malang en-US Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2599-3100 Teologi Misi Pentakostal; Isu-isu Terpilih https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/163 <p>.</p> Rezeki Putra Gulo Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 197 202 10.54345/jta.v7i2.163 Maldonado, G. Transformasi Supernatural https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/161 <p>Segala sesuatu berasal dari hati, demikianlah kira-kira pesan bukuini jika diringkaskan. Hal ini tampak tepat khususnya jika dihubungkandengan firman Yesus, bahwa bukan yang masuk ke dalam mulut yangmembuat orang najis, namun apa yang keluar dari mulut (karena ituberasal dari hati)</p> Victor Christianto Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 203 206 10.54345/jta.v7i2.161 Membaca Kisah Para Rasul 1:1-11 dalam terang hari kenaikan Yesus Kristus https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/155 <p>ABSTRAK<br>Dalam beberapa tahun ini ada perdebatan yang cukup seru di<br>kalangan akademisi khususnya yang bercorak Pentakostal,<br>termasuk: seberapa jauh perbedaan antara hermeneutika Injili pada<br>umumnya dan hermeneutika Pentakostalisme? Misalnya, dalam</p> <p>membaca Kis 1:1-11, perhatian kita mungkin langsung terserap ke<br>kata kuasa atau dunamis. Benar, ini kata yang ajaib bagi banyak<br>orang, bahkan pak Menzies telah menulis tentang Empowering<br>Spirit. Dalam uraian ini kita meneliti hal-hal yang kiranya jarang<br>atau luput dari pembahasan pada umumnya.&nbsp;<br><br>ABSTRACT<br>In recent years there has been quite an exciting debate among<br>academics, especially those with a Pentecostal style, including: how<br>far is the difference between Evangelical hermeneutics in general<br>and Pentecostalist hermeneutics? For example, in reading Acts 1:1-<br>11, our attention may be immediately drawn to the words power or<br>dunamis. It's true, this is a magical word for many people, even Dr.<br>Menzies has written about Empowering Spirit. In this description we<br>discuss things that are rarely discussed or overlooked in general.</p> Victor Christianto Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 165 177 10.54345/jta.v7i2.155 MENCINTAI ALAM SEBAGAI BAGIAN DARI IMAN https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/131 <p>Artikel ini membahas pendekatan ekologis terhadap kepercayaan agama, khususnya dalam konteks pengajaran Injil Markus 12:28-31. Fokusnya adalah untuk mengeksplorasi hubungan antara iman dan tanggung jawab lingkungan, menyoroti ajaran Yesus Kristus tentang kasih bagi Allah dan sesama manusia. Diskusi melibatkan konsep mengasihi Tuhan dan sesama, seperti yang diajarkan dalam Injil Markus, yang dapat diperluas untuk mencakup kewajiban terhadap alam. Inti dari artikel ini adalah pemahaman tentang bagaimana tindakan yang mendukung konservasi alam dapat mencerminkan iman seseorang. Selain itu, artikel ini membahas relevansi ajaran ini dalam menghadapi tantangan ekologi modern dan panggilan untuk mengembangkan kesadaran ekologis dalam praktik keagamaan. Artikel ini menekankan pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai ekologis dalam perspektif agama Kristen.</p> <p> </p> <p>Abstract</p> <p>This article discusses an ecological approach to religious belief, especially in the context of the teaching of the Gospel of Mark 12:28-31. The focus is to explore the relationship between faith and environmental responsibility, highlighting the teachings of Jesus Christ about love for God and fellow humans. The discussion involves the concept of loving God and neighbor, as taught in the Gospel of Mark, which can be expanded to include obligations towards nature. The essence of this article is an understanding of how actions that support nature conservation can reflect one's faith. In addition, this article discusses the relevance of this teaching in facing modern ecological challenges and the call to develop ecological awareness in religious practice. This article emphasizes the importance of integrating ecological values in a Christian religious perspective.</p> Angelicha Tangke Tasik Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 1 18 10.54345/jta.v7i2.131 Menyingkap misteri Ilahi https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/151 <p>Keberadaan Tuhan adalah suatu hal yang terus dipertanyakan oleh manusia. Manusia mengandalkan akal dan pengetahuannya untuk mencari tahu tentang keberadaan Tuhan, walaupun manusia tidak pernah menemukan kepastian akan keberadaan Tuhan. sehingga berbagai anggapan manusia tentang Tuhan muncul, bahwa Tuhan tidak ada; dan sebagian manusia menyangkal dan menolak akan keberadaan Tuhan. Melalui eksplorasi yang terus dilakukan oleh manusia namun mustahil manusia mampu memahami dan mengetahui keberadaan Tuhan secara sempurna karena Tuhan sifatnya transenden tidak terbatas sedangkan manusia bersifat imanen atau terbatas adanya. Sehingga dalam penulisan srtikel ini, penulis mengkaji melalui perspektif filsafat yang didasarkan pada iman Kristen, benarkah Tuhan itu tidak ada? Apakah Tuhan hanyalah khayalan manusia? Banyak sekali manusia khususnya kelompok-kelompok tertentu yang tidak percaya adanya Tuhan dan menganggap bahwa seseorang yang percaya akan adanya Tuhan merupakan suatu kebodohan. Dengan memanfaatkan konsep Teologi Kristen dan pemikiran filsafat, artikel ini membahas argumen-argumen yang digunakan dalam membuktikan eksistensi Tuhan yang tidak terlepas dari perspektif iman kekristenan. Filsafat telah lama menjadi sarana untuk memahami dan menggali pemahaman akan eksistensi Tuhan dalam berbagai tradisi Kristen. Penulis menyajikan beberapa argumen filosofis yang digunakan oleh para teolog kristen untuk mendukung keyakinan akan keberadaan Tuhan dan juga membahas kontribusi pemikiran para filsuf Kristen yang terkemuka dalam merumuskan pandangan tentang eksistensi Tuhan. Dengan mempertimbangkan sudut pandang filsafat, artikel ini memberikan pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana iman Kristen memandang eksistensi Tuhan dan bagaimana filsafat dapat berperan dalam memperkuat keyakinan tersebut. Kesimpulannya, artikel ini menyajikan pandangan tentang bagaimana kajian filsafat berguna dalam memahami dan merenungkan eksistensi Tuhan, terutama dalam kerangka iman Kristen.</p> Dedi Surianto Laia Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 19 41 10.54345/jta.v7i2.151 Psikologi Cinta Tuhan Dalam Metafora Mempelai Terhadap Perubahan Karakter orang Kristen https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/147 <p><span style="font-weight: 400;">Di era postmodern ini, terdapat banyak orang-orang Kristen yang hanya sekedar rutinitas ke gereja untuk ibadah tetapi hatinya tidak mencintai Tuhan dibuktikan dengan sikap dan perbuatan sehari-hari yang tidak mencerminkan seseorang tersebut menyenangkan Tuhan. Berdasarkan&nbsp; analisis pendekatan kualitatif, ditemukan bahwa penyebab utama adalah karena banyak orang Kristen yang mencintai dunia lebih dari mencintai Tuhan. Untuk bisa menanggulangi hal ini pertama membuka pemahaman dalam mencintai Tuhan lewat bantuan ilmu psikologi dengan membandingkan cinta mempelai terkait metafora Tuhan Yesus sebagai mempelai pria dan orang Kristen sebagai mempelai wanita.&nbsp; Adapun hasil yang diperoleh adalah dengan memahami cinta mempelai yang begitu kuat, yang mampu merubah karakter, menjadikan orang Kristen termotivasi untuk menerapkan cinta kepada Tuhan lebih dari apapun yang ada dalam dunia ini sehingga merubah karakter orang Kristen yang terus menyenangkan dan memprioritaskan Tuhan.</span></p> Donny Walui Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 42 60 10.54345/jta.v7i2.147 Manusia Menjadi Tuhan? Suatu Evaluasi Teologis-Apologetis terhadap pemikiran Yuval Noah Harari Tentang Manusia https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/157 <p>Perkembangan <em>homo sapiens</em> yang begitu signifikan memunculkan berbagai macam isu yang mengancam Kekristenan. Salah satu isu yang mengancam Kekristenan terkait dengan <em>homo sapiens</em> yang bisa menjadi tuhan disampaikan oleh Yuval Noah Harari dalam triloginya, yaitu <em>Sapiens: A Brief History of Humankind</em>, <em>Homo Deus: A Brief History of Tomorrow</em>, dan <em>21 Lessons of The 21<sup>st</sup> Century</em>. Argumentasi yang diajukan oleh Harari berdasar pada teori evolusi. Demikian penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bahwa argumentasi Yuval Noah Harari mengenai manusia yang menjadi tuhan yang disampaikannya dalam triloginya tidak dapat dibenarkan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode <em>Literature Review</em>. Melaluinya, peneliti akan menelaah trilogi yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, namun hanya dibatasi pada konsep manusia. Telaah yang dilakukan menggunakan literatur Kristen. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka argumentasi Harari terkait dengan konsep <em>homo sapiens</em> yang menjadi tuhan tidak bisa dipertahankan. Perkembangan <em>homo sapiens</em> yang disampaikan oleh Harari tidak realistis, karena tidak memiliki cukup bukti rasional dan empiris. Berdasarkan hasil telaah yang telah dilakukan, konsep Harari mengenai <em>homo sapiens</em> yang menjadi Tuhan tidak dapat dibenarkan berdasarkan doktrin Kristen.</p> Ivan Bong Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 61 87 10.54345/jta.v7i2.157 “Everyday Spirituality” dari Perspektif Pneumatologi Pentakosta https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/158 <p>Makalah ini membahas fenomena umum di kalangan orang Kristen, khususnya di kalangan komunitas Pentakosta, di mana terdapat kecenderungan untuk lebih fokus pada mengalami Allah dalam peristiwa adikodrati dan supranatural. Dampaknya, kesadaran akan kehadiran Allah dalam peristiwa-peristiwa sehari-hari yang sederhana sering terabaikan. Dalam menanggapi permasalahan ini, spiritualitas sehari-hari sebenarnya telah memberikan solusi yang baik, sebab ia menekankan bahwa Allah sekaligus dapat dialami dalam peristiwa sederhana dari hari ke hari, melalui upaya pemaknaan dan penghayatan. Namun, penulis merasa perlu menyertakan perspektif Pneumatologi Pentakosta untuk lebih menegaskan, khususnya dalam konteks tulisan ini kepada orang-orang Pentakostal, bahwa Allah dapat dialami dalam peristiwa sederhana dari hari ke hari. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, dengan pendekatan studi kepustakaan. Konsep spiritualitas sehari-hari akan dieksplorasi dan dikompatibelkan dengan Pneumatologi Pentakosta, terutama di pusaran Kisah Para Rasul pasal 2. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya nilai-nilai kompatibilitas di antara spiritualitas sehari-hari dan Pneumatologi Pentakosta, seperti menekankan ketekunan dalam menapaki kehidupan, menolak dualisme atau pemikiran biner, serta mampu dan dapat mengalami Allah dalam segala sesuatu. Dengan demikian, keselarasan di antara keduanya menegaskan bahwa pengalaman rohani tidak terbatas pada peristiwa-peristiwa “tidak biasa”, namun juga terdapat dalam kehidupan sehari-hari yang “biasa”.</p> Josua Aritonang Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 10.54345/jta.v7i2.158 Kebangkitan Tubuh dalam Perspektif Teologi Sistematika https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/154 <p>Doktrin kebangkitan tubuh memegang peran sentral dalam memahami konsep keselamatan secara utuh dalam teologi sistematika Kristen. Doktrin ini menegaskan bahwa keselamatan tidak hanya mencakup aspek rohani semata, tetapi juga jasmani. Kebangkitan Yesus Kristus dari kematian secara jasmani menjadi dasar dan jaminan bagi kebangkitan tubuh orang percaya, menunjukkan kemenangan atas dosa dan kematian serta membuka jalan bagi keselamatan yang lengkap. Kebangkitan tubuh memiliki implikasi luas, seperti menegaskan bahwa Allah peduli dengan ciptaan fisik, memberikan harapan pemulihan dan penyembuhan total, serta mendorong penghargaan terhadap tubuh sebagai bait Roh Kudus. Dalam kajian ini, kebangkitan tubuh dipandang sebagai sumber pengharapan, kekuatan, dan motivasi bagi orang Kristen dalam menjalani kehidupan di dunia ini serta mengantisipasi keselamatan yang lengkap di akhirat.</p> jonius halawa Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 10.54345/jta.v7i2.154 Belajar tunduk sepenuhnya kepada Bapa seperti Yesus https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/132 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Tujuan penulisan jurnal ini yaitu untuk menelusuri makna dan implikasi ketundukan Yesus kepada Bapa dalam konteks kehidupan kita. Ketundukan Yesus kepada Bapa adalah salah satu aspek terpenting dalam kehidupan-Nya. Yesus menunjukkan ketaatan yang luar biasa kepada Bapaknya dalam kehidupannya di bumi. Dia menempatkan kehendak Tuhan di atas segalanya dan hidup dalam ketaatan yang sempurna. Dalam Matius 26:39, ketika Yesus berdoa di Taman Getsemani sebelum penyaliban-Nya, Yesus dengan rendah hati meminta agar cawan penderitaan yang Ia alami disingkirkan, namun pada akhirnya Ia berserah diri sepenuhnya pada kehendak Bapa. Penyerahan Yesus kepada Bapa mempunyai makna yang dalam. Hal ini menunjukkan kasih, ketaatan dan ketergantungan yang tak tergoyahkan pada Bapa. Dalam kepasrahannya, Yesus mengungkapkan kedekatan hubungan antara Bapa dan Anak serta kesempurnaan kehendak-Nya dalam melaksanakan rencana keselamatan Allah. Konsekuensi ketundukan Yesus kepada Bapa sangatlah penting bagi umat Kristiani. Kita dipanggil untuk mengikuti jejak-Nya dan hidup dalam ketundukan kepada Tuhan. Jika kita meneladani penyerahan diri Yesus, kita bisa mengalami perubahan hidup yang sangat besar. Ketundukan kepada Tuhan mendatangkan kedamaian, kegembiraan, dan kemakmuran sejati.</p> <p><em>Kata kunci : ketundukan, yesus, Bapa, kehendak allah kehidupan Kristiani</em></p> <p><strong> </strong></p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>The purpose of writing this journal is to explore the meaning and implications of Jesus' submission to the Father in the context of our lives. Jesus' submission to the Father was one of the most important aspects of His life. Jesus showed extraordinary obedience to his Father in his life on earth. He placed God's will above all else and lived in perfect obedience. In Matthew 26:39, when Jesus prayed in the Garden of Gethsemane before His crucifixion, Jesus humbly asked that the cup of suffering He experienced be removed, but in the end He submitted completely to the will of the Father. Jesus' submission to the Father has a deep meaning. This shows unwavering love, obedience and dependence on the Father. In his surrender, Jesus revealed the close relationship between the Father and the Son and the perfection of His will in carrying out God's plan of salvation. Jesus' submission to the Father is very important for Christians. We are called to follow in His footsteps and live in submission to God. If we imitate Jesus' message, we can experience huge life changes. Submission to God brings true peace, joy, and well-being.</p> <p><em>Key words: submission, Jesus, Father, God's will for Christian life</em></p> <p> </p> Saskia Lilia Ashari Palilu Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 143 163 10.54345/jta.v7i2.132 An alternative description of paleo-astrogeophysics process and origin of Earth based on Low Temperature Physics https://jurnal.sttsati.ac.id/index.php/amreta/article/view/160 <p>Dalam artikel sebelumnya di Jurnal BPAS Geology Section, dengan<br />judul: “How Shannon Entropy perspective provides link among<br />exponential data growth, average temperature of the Earth, declining<br />Earth magnetic field, and global consciousness” (<em>BPAS Section F,</em><br /><em>Geology, 2019</em>), penulis membahas antara lain data sunspot<br />sepertinya menunjukkan bahwa Matahari kemungkinan akan<br />memasuki Maunder Minimum, yang dapat berarti rendahnya<br />aktivitas Matahari kemungkinan dapat menyebabkan rendahnya<br />suhu di Bumi, sementara itu kita mengalami suhu permukaan Bumi<br />yang semakin tinggi. Kita juga harus mengingat perubahan iklim</p> <p>global yang akan terjadi dalam waktu dekat (cf. Toffler,</p> <p><em>The Ecospasm report</em>, 1975). Fenomena ini kemudian membuat kami<br />bertanya: apa yang dapat kita lakukan sebagai manusia di Bumi<br />untuk menunda atau menghindari memburuknya suhu pendinginan<br />Bumi di tahun-tahun mendatang? Kami pikir ini adalah masalah<br />yang lebih mendesak dan merupakan bahaya nyata saat ini yang kita<br />hadapi di Bumi. Seperti yang telah kami bahas sebelumnya, di sini<br />kita akan membahas pendekatan fisika suhu rendah terhadap alamsemesta awal bersama dengan bumi ini, yang tampaknya terkait<br />dengan proses paleo-astrogeologi Bumi kita, serta model interaksi<br />Matahari-Bumi dalam kaitannya dengan entropi Shannon. Karena<br />entropi Shannon dapat dinyatakan sebagai bit informasi, maka ini<br />berarti kita mungkin dapat melakukan sesuatu terhadap suhu bumi<br />dengan mengontrol jumlah transfer dan penyimpanan informasi di<br />bumi. Alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam hal ini adalah<br />dengan memantau dan mendinginkan perikanan laut dalam, karena<br />beberapa jenis ikan laut dalam kemungkinan besar akan<br />mempengaruhi suhu laut global, dan kemudian suhu permukaan<br />global cenderung meningkat.</p> <p> </p> <p><strong>Abstract</strong></p> <p>In a previous article in a Journal, with title: “How Shannon Entropy<br />perspective provides link among exponential data growth, average<br />temperature of the Earth, declining Earth magnetic field, and global<br />consciousness” (<em>BPAS Section F, Geology,</em> 2019), we discussed<br />among other things that the sunspot data seems to indicate that the<br />Sun is likely to enter Maunder Minimum, then it will mean that low</p> <p>Sun activity may cause low temperature in Earth, while in the<br />meantime we experience increasingly high Earth surface<br />temperature. We shall also keep in mind impending global climate<br />changes in the near future (cf. Toffler, <em>The Eco-spasm report</em>, 1975).<br />This phenomenon then causes us to ask: what can we do as human<br />being in Earth to postpone or avoid the worsening situation in terms<br />of Earth cooling temperature in the coming years? We think this is a<br />more pressing problem for the real and present danger that we are<br />facing in the Earth. As we discussed earlier, we would discuss here a<br />low temperature physics approach to early Universe along with this<br />earth, which seems to be linked to paleo-astrogeological process of<br />our Earth, along with a model Sun-Earth interaction in terms of<br />Shannon entropy. Since Shannon entropy can be expressed as bits of<br />information, then it would mean that perhaps we can do something<br />with Earth temperature by controlling the amount of information<br />transfer and storage in the Earth. An alternative way that can be<br />considered in this regard is to monitor and cool deep-ocean fisheries,<br />because several kind of deep-sea fishes are likely to affect the global<br />sea temperature, and then the global surface temperature tends to<br />increase.</p> Victor Christianto Isak Suria Copyright (c) 2024 Jurnal Teologi Amreta (ISSN: 2599-3100) 2024-06-13 2024-06-13 7 2 10.54345/jta.v7i2.160