This edition is dedicated for discussions on how Pentecostalism thoughts create impact on worship and ecclesiology practices both here and now, and also for the foreseeable future.

 

“Pentecostalism, Worship & Ecclesiology.”

 

Sudah diketahui, bahwa pemahaman kalangan Karismatik-Pentakostal cukup
khas dalam hal ibadah, yang kerap menekankan aspek pujian dan penyembahan. Apa dan bagaimana hubungan ibadah tersebut dengan eklesiologi dan
khususnya tritugas panggilan gereja: koinonia, diakonia dan marturia, tentu
menarik untuk dikaji dan dikupas. Terutama dalam konteks perubahan cepat
yang kita alami sebagai gereja, entah itu gereja-gereja Karismatik-Pentakostal
atau denominasi arus utama.

Dalam edisi Jurnal Amreta kali ini, tema yang diangkat adalah seputar
Pentecostalism, Worship & Ecclesiology, khususnya bagaimana menggereja secara
sehat dalam pimpinan Roh Kudus. Tantangan ke depan yang dihadapi oleh
gereja-gereja adalah bagaimana merenungkan ulang eklesiologi yang dinamis di
tengah pelbagai perubahan masyarakat khususnya menyangkut teknologi. Artikel-artikel dalam edisi kali ini dipilih untuk mewakili tema tersebut.

Sebagai artikel pembuka, Pdt. Em. Robby Chandra memaparkan mengenai Yangturun dari langit dan dampaknya, dalam hubungannya dengan memahami Kisah Para Rasul 2. Sebuah artikel yang sangat patut disimak. Lalu Yakub Hendrawan Perangin Angin dan Tri Astuti Yeniretnowati
menguraikan pentingnya pendidikan Kristen dalam keluarga dalam
hubungannya dengan regenerasi kepemimpinan Kristen. Selanjutnya dalam
artikel ketiga, Kristien Oktavia dan Yonatan Alex Arifianto membahas mengenai
Memahami Efesus 5:1-21 dalam Upaya Hidup Berpadanan dengan Panggilan
Orang Percaya di Tengah “Serigala.” Kedua penulis juga memberikan beberapa
saran bagaimana gereja-gereja sebaiknya bersikap terhadap berbagai kasus yang
mengusik nurani kita, seperti misalnya perdagangan manusia (human trafficking)
dan kekerasan terhadap anak-anak.

Artikel keempat ditulis oleh Simon dan V. Christianto, menguraikan bagaimana
kesulitan yang dihadapi berbagai gereja khususnya di Iran dan Tiongkok, namun
Roh Kudus juga berkarya dengan dahsyat. Di bagian akhir, kedua penulis
memaparkan model Kingdom Graph sebagai suatu kerangka dalam memahami
pertumbuhan gereja rumah tersebut.

Dalam artikel non-tematik, Jhon Leonardo Presley Purba dan Robinson Rimun
memberikan suatu Kritik terhadap Metode Tafsir Hermeneutik Pembebasan
terhadap Peristiwa Keluaran Sebagai Suatu Bentuk Pembebasan. Memang tafsir
Kitab Keluaran seringkali digunakan sebagai titik pijak bagi para teolog
pembebasan dalam membangun argumen mereka. Pertanyaannya adalah:
apakah pendekatan analisis marxisme itu dapat diterima atau lebih tepat
dianggap sebagai semacam eisegesis?

Sebagai penutup, ada tiga resensi buku: (a) karya Nicholls, Bruce J. Contextualization: A Theology of Gospel and Culture, (b) karya Veli-Matti Karkkainen, Tritunggal dan Pluralisme Agama, dan (c) karya J. Gresham Machen, Kekristenan dan Liberalisme. Ketiga resensi buku tersebut menutup edisi ini.

DOI: https://doi.org/10.54345/jta.v4i2

Published: 2022-03-14